“Kau hadir dengan segala tingkah lugumu.. Memasungku dalam gugusan asa baru, mengharap rindu menusukku lagi.. —- boleh gak aku kangen?! ”
Jujur harus ku akui, kau tiba2 datang di saat aku tengah menggantungkan harapan di atas tungku yang tak lagi berapi.. Terkikis longsor sepi yang mengendap di bebatuan..
Hadirmu menyalakan tungku yang kudiami, yang memang perlahan mulai padam.. Panasnya begitu menyengat hingga aku mulai kegerahan.. Gerah yg teramat sangat karena berbalut rindu melesat di lubuk hatiku..
Berlebihankah aku memaknai hadirmu? Aku tak peduli.. Yang pasti, saat ini, aku butuh yg namanya ketenangan, setelah sekian lama aku di lilit resah dan gundah dalam penantian semu..
Maka izinkahlah aku kini menjadikanmu jembatan untuk rindu dan cinta baruku.. Karena ternyata, padamu kutemukan ketenangan yg terpendar lugu.. Ah, baru beberapa lama aku mengenalmu. Kok tiba2 aku ingin terus berada di dekat kamu.. Mungkin tidaklah salah, aku memilihmu..
(ME)